Senin, 06 April 2020

"THE LAW OF ATTRACTION” POLITIK INDONESIA


Oleh : Abd. Latif

“The law of attraction” adalah hukum Tarik menarik. Dalam buku “The Secret” karya Rondha Byrne yang diliris pada tahun 2006, adalah salah satu buku laris yang didasarkan pada film “the secret”. Buku itu banyak membahas tentang hukum Tarik-menarik. Lalu apa hubungannya antara law of attraction dengan politik Indonesia? Yang jelas sangat berhubungan.

Alam semesta tersusun atas quanta-quanta atau gelombang vibrasi, nah pada gelombang vibrasi ini ada hukum the law of attraction yaitu hukum Tarik menarik. Hukum Tarik-menarik atau the law of attraction berbunyi “suatu quanta dengan gelombang vibrasi yang sejenis saling Tarik menarik”

Dalam semesta ini hukum tarik menarik berlangsung secara sistematis dan otomatis. Ada suatu mekanisme tunggal sistematis yang otomatis diatur oleh Sang Maha Tak Terbatas, yang dalam istilah Napoleon Hill disebut Intelegensia tanpa batas, atau dalam istilah Anthony Robbins disebut Unlimited Power Within.

Hukum daya Tarik menarik berlangsung secara sistematis dan otomatis terlepas apakah kita percaya atau tidak, hukum alam akan berjalan mengikuti sistematisnya. Dalam alam semesta suatu quanta atau gelombang vibrasi bersifat Tarik menarik terhadap gelombang-gelombang vibrasi yang sejenis. Kenegatifan akan menarik banyak kenegatifan. Begitu juga kepositifan akan menarik banyak kepositifan.

Maka tidak heran jika gelombang radio Suara Giri FM yang beropersi di Gresik dapat diterima di berbagai daerah jika gelombang dan frekuensinya sama. Chanel banyak Televisi bisa diterima di berbagai negeri ketika chanel itu segelombang dan sefrekuensi. Semua akan menolak jika gelombang dan frekuensinya berbeda.

Begitu juga kalau kita melihat cara berfikir seseorang. Seorang yang hobby mancing pastilah ia akan lebih nyaman dengan orang yang sehobby yaitu dengan orang-orang yang suka mancing juga. Seorang pencinta sepak bola pastinya akan tertarik dengan permainan sepak bola. Seorang pencinta burung juga pasti akan menarik orang-orang yang suka di dunia burung. dan banyak lagi contoh dalam kehidupan kita.

Dalam dunia politik pun tidak jauh berbeda. Suatu sistem yang negatif akan menarik banyak hal negatif dan sebaliknya sebuah sistem yang positif akan menarik banyak hal yang positif. Ketika negara dibangun berdasarkan ketaqwaan, maka akan menarik banyak dari orang-orang yang bertaqwa. Sebalik jika suatu negeri dibangun atas dasar kerakusan dunia, maka akan menarik banyak dari orang-orang yang rakus akan dunia.

Salah satu contoh nyata adalah mengapa ratusan ribu orang-orang negatif katakanlah pencuri, pezina, narkoba, pembunuh atau para narapidana dibebaskan? Sementara orang-orang yang mukhlis, sholih, juru dakwah, orang-orang kritis tetap dalam penjara?  jelas mereka orang-orang negatif itu akan menarik orang-orang yang sevisi, sepemikiran, seprofesi dengannya. Seorang pencuri akan menarik pencuri atau membebaskan pencuri yang lain. Seorang koruptor akan menolong koruptor yang lain. Seorang pecandu akan Bersama dengan para pecandu yang lain.

Kemanusian dan wabah corona hanya sebagai alasan belaka. Jika benar pembebasan para narapidana itu karena kesehatan dan kemanusiaan, Mengapa mereka tidak membebaskan Abu Bakar Ba’ashir atau Habib Bahar ? bukankah kesehatan Ust. Abu Bakar yang sudah sangat tua itu lebih resiko? Jelaslah bahwa bebasnya 30.000 narapidana itu karena mereka seprofesi, seide, seperjuangan, sepemikiran. Mereka tidak membebaskan Ust. Abu Bakar dan Habib Bahar karena bertolak belakang dengan gelombang vibrasi orang-orang jahat.

Inilah politik demokrasi. demokrasi adalah sistem peninggalan Yunani yang berdasarkan pada kebebasan. Dalam demokrasi manusia dijamin kebebasannya dalam semua aktifitasnya. Manusia bebas riba, zina, berpendapat, makan-minum, dan lain-lain selama mereka suka sama suka atau tidak mengganggu orang lain. Hal ini sangatlah berbeda dalam sistem islam. Islam mengatur seluruh perbuatan manusia. Ketaatan manusia dalam semua aturan agama itulah orang yang bertaqwa. Dan jika islam diterapkan jelas akan menerik banyak dari orang-orang yang bertaqwa.
jelaslah bahwa the law of attraction politik Indonesia, akan menarik orang-orang yang segelombang, sefrekuensi, sepemikiran, seide, sejalan, seprofesi. Selama negara ini menganut sistem yang negatif maka akan menarik orang-orang negatif pula, dan orang-orang negatif ini pasti akan melindungi dan membebaskan orang-orang negatif pula. Bebasnya 30.000 narapidana ini adalah bukti hukum Tarik menarik atau law of attraction sedang berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar