Oleh: Achmad Syaiful Bachri
.
Sedemikian mapannya kapitalisme di negeri ini, padahal sebagian besar pengamat politik maupun ekonomi menyatakan bahwa kapitalisme sedang menghancurkan dirinya sendiri. Ada yang mengatakan sekali sentuh saja kapitalisme bisa ambruk. Tapi kenapa masih mapan.
Karena setiap sistem ada penyangganya. Bisa jadi yang menjadi penyangganya adalah kepala negara beserta jajaran menteri-menterinya, bisa jadi aparatur negaranya, bisa jadi juga para cendekiawan yang terbeli oleh jabatan. Orang-orang yang terbeli secara materi ini mati-matian menyangga sistem kapitalisme ini. Meskipun nyata nyata sistem ini menjadi akar utama problematika bangsa ini. Bangsa ini terjajah secara ekonomi karena kapitalisme. Rakyat pun semakin sengsara karena penerapan sistem kapitalisme.
Adalah Hikma Sanggala, Mahasiswa dari Kendari, bersama teman-temannya berusaha mendobrak kemapanan sistem kapitalisme ini. Mereka begitu prihatin melihat kondisi bangsa ini yang hampir hancur karena kapitalisme. Tentu saja upaya ini mendapat rintangan dari antek-antek kapitalis yang sudah terbeli secara materi tadi. Melalui antek anteknya ini, kaum kapitalis berusaha memperpanjang nafas mereka.
Hikma Sanggala dan teman-temannya juga ingin menegakkan syariah Islam dan sistem Khilafah setelah runtuhnya sistem kapitalisme. Sebuah Sistem yang awal mulanya asing kemudian akan terasingkan lagi di mata umatnya. Karena barat beserta antek anteknya berusaha mengasingkan Islam dari umatnya. Hikma Sanggala dan teman-temannya ingin memgeluarkan Islam dari keterasingannya sebagai sebuah sistem yang mengatur seluruh kehidupan. Serta sebagai sebuah sistem yang wajib diterapkan secara kaffah oleh kaum muslimin.
Namun, akibat aktivitasnya tersebut. Hikma Sanggala di DO oleh Sang rektor. Ya, Hikma Sanggala di DO oleh sang rektor hanya karena dia memperjuangkan Khilafah. Ini memamg tidak adil, bagaimana mungkin kampus sebagai kawah candradimuka pemikiran, mengkriminalisasi pemikiran mahasiswa. Padahal semenjak era reformasi bak bendungan yang jebol semua pemikiran bebas masuk ke kampus, tidak terkecuali pemikiran Sosialisme-Komunisme-Marxisme yang jelas jelas tak sejalan dengan pancasila.
Kokohnya Keimanan Hikma Sanggala pun menyiratkan untuk melawan ketidakadilan ini. Hikma Sanggala pun menggugat ke pengadilan. Meskipun akhirnya harus dikalahkan oleh Sang hakim. Pengadilan akhirnya membenarkan kezaliman Sang Rektor.
Duhai Hikma Sanggala, sesungguhnya engkau senantiasa diliputi kemenangan. meskipun titel sarjana belum kau raih akibat ini. Engkau telah bertitel sebagai seorang pengemban dakwah, yang setiap perkataannya, setiap langkahnya senantiasa mengandung pahala ketika menyampaikan yang haq itu haq dan yang batil itu batil.
Inspirasi keteguhan perjuanganmu, akan menginspirasj dan menyemangati para pejuang Khilafah, dan akan menjadi amal jariyah bagimu.
Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya yang menolong Dien-Nya. Berupa tegaknya Khilafah dan pertolongan Allah berupa ganjaran Surga-Nya.
HIDUP ISLAM! HIDUP KHILAFAH! ALLAHU AKBAR!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar