Minggu, 08 Maret 2020

PENUMPANG GELAP ITU PARA BANDIT NEGARA YANG BERTOPENG PANCASILA


Oleh : Abd. Latif

“Maling teriak maling” itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan mereka yang telah menggarong kekayaan negara. “maling teriak maling” adalah sebuah peribahasa yang menjelaskan seseorang yang telah melakukan kejahatan, yang masih disembunyikan kejahatannya seraya menuduh orang lain yang melakukan perbuatan tersebut.

Mereka menuduh anti NKRI, anti Pancasila, anti Bhineka tunggal ika, intoleran, radikal, teroris yang membahayakan negara kepada ormas islam HTI yang berjuang untuk tegaknya Syariah dan Khilafah. Mereka pun pernah menuduh ormas itu sebagai penumpang gelap saat menjelang Pilpres 2019. Dan kini tuduhan penumpang gelap itu juga kembali terlontar saat aksi bela muslim India di Semarang. Siapakah sebenarnya penumpang gelap menurut logika akal sehat ?

Menurut Bahasa arti penumpang gelap adalah penumpang yang tidak mau membayar. Maksudnya adalah mereka yang memanfaatkan kendaraan orang lain untuk mencapai tujuan dan target tanpa harus membayar atau berkorban. Jadi para penumpang gelap adalah mereka yang dapat meraih target atau tujuan tanpa ada pengorbanan sedikit pun. Mereka memanfaatkan kelengahan orang lain untuk merealisasikan tujuan dan target-targetnya.

Jika mengacu pada pengertian penumpang gelap diatas justru mereka yang menuduh anti NKRI, anti Pancasila, anti Bhineka tunggal ika, intoleran, radikal, teroris yang membahayakan negara adalah penumpang gelap dari para pemangku kekuasaan. Mereka berlindung atas nama Pancasila dan NKRI untuk menyelamatkan diri dari jerat hukum yang berlaku seraya menuduh orang lain untuk menutupi kebejatannya.

Jika tuduhan penumpang gelap ini ditujukan kepada HTI yang gigih berjuang untuk tegaknya Syariah dan khilafah karena dianggap anti NKRI, dan anti Pancasila, Intoleran, Radikal, maka tuduhan ini adalah fitnah belaka. Mengapa dikatakan fitnah ? karena sampai saat ini tidak ada satu bukti dan fakta pun yang sesuai dengan tuduhan itu.

Jika HTI dianggap tidak NKRI, standartnya apa ? jika HTI bertentangan dengan Pancasila, tunjukkan sila berapa yang dilanggar HTI ? jika bertentangan dengan UUD tunjukkan pasal berapa ? apakah HTI membawa senjata lalu memberontak ? apakah pernah HTI berlaku anarkis ? lalu siapakah contoh dari rezim ini dan para anteknya yang paling pancasilais, paling NKRI ?

 Apakah mereka yang telah melepas Timor Timur itu paling NKRI ? apakah mereka yang telah melepas pulau Sipadan dan Legitan itu paling NKRI. Apakah mereka yang telah menggarong uang negara dari partai-partai berlambang hewan itu termasuk paling NKRI ? apakah yang hobi utang itu merupakan bagian dari amanah Pancasila ? apakah menjual aset-aset negara itu pancasilais ? apakah telanjang yang dikatakan seni itu ajaran Pancasila ? apakah menguras APBN atas nama menutupi jiwasraya bagian dari Pancasila ? apakah diamnya negara terhadap prahara kemanusiaan di Uighur dan India  termasuk amanah UUD 1945 ? mencabut subsidi bagian dari UUD atau amanat Pancasila ? memalak rakyat atas nama BPJS apakah bagian dari pengamalan Pancasila?

Justru semua itu telah dilakukan rezim berserta antek-antek mereka untuk kepentingan partainya. Mereka memanfaatkan jabatan untuk menguras kekayaan negara sesuai amanat para kapital yang mendanai pencalonannya. Mereka berkhidmat pada asing dan aseng tanpa peduli bagaimana nasib bangsanya sendiri. Mereka berlindung dibelakang Pancasila untuk mengempur lawan politiknya. Dan Pancasila pun diam seribu Bahasa tak berdaya dihadapan para bandit-bandit negara.

Jadi jelaslah bahwa penumpang gelap itu adalah mereka yang telah menjual aset-aset vital negara atas nama Pancasila. Mereka yang telah melepas satu per satu wilayah NKRI atas nama Pancasila. Mereka yang telah menggarong uang negara atas nama Pancasila. Mereka yang telah menyerahkan kedaulatan NKRI kepada asing dan aseng atas nama Pancasila. Merekalah sebenar-benarnya maling berteriak maling untuk menyelamatkan dirinya. Jadi penumpang gelap itu adalah para bandit negara yang bertopeng Pancasila. Pancasila hanya sebuah kedok untuk menutupi semua kebejatan dirinya. Belumkah kita faham dengan fakta ini ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar