Rabu, 18 Maret 2020

GARA-GARA KAPITALISME TIBA-TIBA GAGAP CORONA



Oleh: Achmad Syaiful Bachri

Sampai dengan hari Selasa (17/03/2020), CNN Indonesia mewartakan bahwa Sejauh ini, total ada 172 orang positif terjangkit virus corona di seluruh Indonesia.

Bisa jadi jumlahnya akan terus bertambah. Hal ini dikarenakan buruknya penanganan dari pemerintah. Pemerintah nampaknya gagap menghadapi pandemi Corona ini. Banyak yang menilai bahwa pemerintah abai dan tidak peduli. Padahal rakyat sebenarnya menunggu langkah yang diambil pemerintah.

Ada beberapa yang bisa kita saksikan fakta-fakta tidak tanggapnya pemerintah menghadapi meluasnya wabah pandemik Corona ini.

Pertama, penetapan status lockdown, sampai sekarang pemerintahan Jokowi enggan untuk menetapkan langkah lockdown. Dan malah mengancam pemerintah daerah yang memberlakukan lockdown. Padahal mayoritas rakyat menginginkan status lockdown, untuk melokalisir penyebaran wabah corona ini. Meskipun pada akhirnya kepala daerah rame rame menetapkan status lockdown. Walaupun terlambat.

Pemerintah juga masih membiarkan pintu keluar masuknya manusia terbuka lebar, terutama bagi warga negara China, yang menjadi negara asal pandemik ini.

Kedua, Sarana dan pra sarana tenaga medis maupun relawan medis yang kurang memadai. Seperti yang dilansir di Republika.co.id (17/03/2020), Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan, para tenaga medis, baik dokter maupun perawat, di fasilitas kesehatan yang menangani virus corona (Covid-19) yang mengeluhkan kurangnya alat pelindung diri (APD) untuk mereka. Akibatnya, banyak petugas kesehatan yang menjadi korban. Dan dikhawatirkan malah akan kekurangan tenaga medis karena sebagian dari mereka tertular wabah Corona ketika bertugas.

Ketiga, Persoalan Masker, ketika masker naik mahal dan langka. pemerintah malah eksport masker ke China. Padahal masyarakat membutuhkan masker untuk mencegah wabah corona. Seharusnya kebutuhan dalam negeri dipenuhi dulu sebelum dieksport. kalau perlu digratiskan karena kondisi darurat.

Keempat, mahalnya tes Corona. Mencegah wabah pandemik ini, perlu juga antisipasi dini tes corona ini. Namun, nampaknya hanya kalangan yang mampu saja yang bisa melakukan tes. Karena ada cerita netizen bahwa tes Corona demikian mahal, yakni sekitar 705.000. Netizen tersebut mengharapkan pemerintah agar mengcover dana tersebut, agar warga yang tak mampu juga bisa mencegah sejak dini melalui hasil tes.

Gagapnya pemerintah dikarenakan beberapa faktor. Diantaranya adalah :

Pertama, Kapitalisasi kesehatan, di Indonesia semuanya diukur dengan uang, tidak terkecuali pelayanan kesehatan. Seperti halnya keluhan netizen di atas yang harus merogoh kocek 705.000 untuk cek corona. Seharusnya pemerintah lah yang wajib bertanggung jawab mengcover dana tersebut untuk pencegahan dini. sehingga mana yang sehat dan mana yang terpapar bisa langsung di lokalisir untuk segera diambil tindakan bagi yang terpapar.

Kedua, Debt Trap (Jebakan Utang) dan jebakan investasi. Tak dapat dipungkiri bahwa Utang dan investasi bisa mengendalikan suatu negara. Tidak beraninya Indonesia menghentikan arus WNA China masuk ke negeri ini dan juga kebijakan ekspor masker di saat rakyat lebih membutuhkan, bisa jadi juga karena tekanan jebakan utang dan investasi dari China yang tertuang dalam kesepakatan OBOR/BRI. Sehingga pemerintah lebih mendahulukan kepentingan China daripada kepentingan rakyatnya. Bahkan sekalipun di saat kondisi darurat seperti ini, pemerintah tetap tega mengabaikan rakyatnya.

Ketiga, Hampir semua kebijakan pemerintah dikendalikan oleh invisible hand atau invisible government, yakni kaum kapitalis, baik lokal maupun asing. karena bisa jadi ekspor masker tersebut adalah desakan kaum kapitalis lokal, karena mereka juga ingin mengambil keuntungan dari kegiatan ekspor masker, apalagi dalam kondisi seperti ini harganya bisa tinggi. Jadi langkanya masker disebabkan karena distribusi ala kapitalis.

Keempat, Tidak diterapkannya sistem Islam. Andai pemerintah menerapkan syari'at Islam. Pemerintah pasti tidak akan gagap seperti saat ini. Dan pasti akan segera melakukan lockdown dengan menyandarkan pada hadits nabi saw :
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Sistem Islam juga akan menjadikan pemerintah lebih tanggap dan lebih bertanggung jawab melayani rakyatnya, karena termotivasi hadits Nabi saw :
Rasulullah saw bersabda, “Imam/Khalifah adalah pemelihara urusan rakyat, ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR Bukhari Muslim).
Sehingga akan takut balasan di akhirat kelak andai mengabaikan kepentingan umat atau rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. misalkan saja terkait corona ini, pemerintah pasti akan sekuat tenaga menyediakan tenaga medis dengan sarana dan pra sarana yang memadai, sehingga tenaga medis bisa nyaman melayani tanpa khawatir tertular sampai situasi lockdown selesai. Dan secara cuma-cuma.

Oleh karena itu, dari peristiwa pandemik corona ini, seharusnya rakyat Indonesia menyadari bahwa selama negeri ini di atur dengan kapitalis, maka pemerintah pasti akan abai dan lalai terhadap urusan rakyatnya.

Sudah saatnya rakyat Indonesia me lockdown kapitalisme dan kembali kepada Sistem Islam dalam institusi Khilafah. Syari'at Islam dalam naungan Khilafah telah terbukti selama 13 abad mampu melayani urusan umat.

HIDUP ISLAM! HIDUP KHILAFAH! ALLAHU AKBAR!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar