Minggu, 29 Maret 2020
DOMINASI NILAI MATERI KAPITALISME DALAM MENGHADAPI CORONA
Oleh: Achmad Syaiful Bachri
Menurut Seikh Taqyudin An Nabhani. Manusia dalam hidup ini ada 4 hal yang ingin dicapai. Yakni nilai materi, nilai kemanusiaan, nilai akhlaq dan nilai spiritual.
Ada kalanya terjadi benturan ketika kita ingin mencapai empat nilai ini. Sehingga perlu dipilih mana yang harus diprioritaskan atau didahulukan.
Dalam menentukan skala prioritas ini seorang muslim wajib mengembalikan kepada dalil atau nash. Misalkan saja terjadi benturan antara kewajiban sholat Jum'at dan kewajiban mencari nafkah. Dalam hal ini terjadi benturan antara nilai materi dan spiritual. Ketika kita kembalikan kepada Nash Al Qur'an, maka jelas kita diperintahkan untuk wajib melaksanakan sholat Jum'at dan wajib meninggalkan aktivitas jual beli atau mencari nafkah.
Begitu juga, ketika terjadi pandemi Corona ini. Terjadi benturan antara nilai materi dan nilai kemanusiaan. Mana yang harus didahulukan. Dalam islam, ketika terjadi wabah di suatu wilayah maka kita dilarang memasuki wilayah tersebut. Dan apabila di wilayah kita terserang wabah maka kita juga dilarang keluar dari wilayah ini agar wabah tidak menyebar. Sehingga harus isolasi wilayah.
Hal ini jelas harus mengorbankan sisi materi demi nilai kemanusiaan, karena roda ekonomi terhenti sebagai akibat dari kebijakan isolasi ini, yang sekarang lebih dikenal dengan istilah lockdown. Dan di dalam islam pula, ketika roda ekonomi terhenti maka menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama lockdown. Karena yang harus didahulukan adalah nilai kemanusiaan.
Sayangnya pemerintahan kita diatur dengan sistem kapitalisme. Dalam kapitalisme, setiap terjadi benturan di antara 4 nilai tersebut, maka pasti yang didahulukan adalah nilai materi. Tidak terkecuali ketika berbenturan dengan sisi kemanusiaan.
Lihat saja, ketika para ahli medis, para tokoh serta para ulama' mengusulkan lockdown. Pemerintah kita malah lebih mengutamakan investasi, devisa dan lebih mengutamakan meneruskan pembangunan Ibu Kota baru daripada melindungi keselamatan warganya karena serangan dahsyat corona. Barangkali bagi pemerintah mengatur urusan rakyat dalam kondisi seperti ini dianggap merugikan dari segi materi. Nampak sekali pemerintah enggan melakukan Lockdown untuk memghindari tanggung jawabnya memenuhi kebutuhan warganya selama wabah pandemik Corona ini.
Pemerintah enggan menggunakan anggaran APBN untuk memenuhi kebutuhan rakyat selama Lockdown. Padahal uang APBN itu berasal dari pajak rakyat yang dipungut tanpa pandang bulu, dari kalangan kaya, menengah, maupun miskin. Namun, mengapa ketika rakyat membutuhkan APBN, justru pemerintah gamang mengeluarkannya.
Padahal pemerintah, melalui Sri Mulyani begitu gampangnya menyuntikkan dana APBN untuk menalangi dana jiwa sraya yang di korupsi dengan nilai yang fantastik puluhan triliyun.
Pemerintahan juga lebih suka meneruskan rencana pemindahan Ibu kota yang dananya empat ratusan triliyun daripada membatalkan dan mengalihkan dana itu untuk menyelamatkan warganya dari serangan Virus pandemik Corona ini.
Anehnya, Sri Mulyani malah membuka rekening untuk meminta sumbangan kepada rakyat yang saat ini berjuang dan bertarung sendirian melawan virus corona. Rakyat bergumam, begitu teganya engkau Sri Mulyani. Bukannya membantu tapi malah meminta sumbangan.
Inilah negeri kapitalisme, skala prioritas yang ada dalam pikiran mereka hanyalah nilai materi. kalaupun ada penampakan nilai kemanusiaan, nilai akhlaq dan nilai spiritual yang dilakukan pemerintah, itu hanyalah sekedar penciteraan dan kembalinya adalah pada nilai materi, yakni pencitraan kekuasaan.
Barangkali anda masih ingat, setelah tsunami melanda, setelah kebakaran hutan, setelah bencana, pasti muncul sosok berbaju putih dengan pose prihatin. Barangkali itulah fenomena penampakan nilai kemanusiaan yang aslinya tujuannya adalah mencapai nilai materi. Anda juga masih ingatkan ketika pemilu kemarin ada orang yang tiba tiba sholat tapi terungkap kameranya di depan Sang 'imam dan peserta sholat. Itulah penampakan nilai spiritual, padahal yang dicapai adalah nilai materi. Inilah Pencitraan kekuasaan khas kapitalistik. [ ]
HIDUP ISLAM! HIDUP KHILAFAH! ALLAHU AKBAR!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar