Rabu, 25 Maret 2020

PANCASILA, MASIHKAH DI INDONESIA ?



Oleh : Abd. Latif

Virus corona yang menjadi pandemic di negara Pancasila ini belum tertangani dengan sempurna. Ratusan warga meregang nyawa, puluhan dokter ahli telah menjadi tumbalnya, namun belum terdengar ungkapan dan solusi dari Pancasila. Seolah telah bisu, buta, dan tuli terhadap apa yang terjadi. Tak ada solusi dan aksi kemanusiaan yang diberikan. Pancasila, masihkah di Indonesia ?

Kita semua tidak tahu dimanakah Pancasila sejatinya berada. Padahal seluruh rakyat Indonesia telah mengelu-elukan, mendewa-dewakan, mengagung-agungkan, dan bahkan telah disakralkan. Karena begitu agung dan sakralnya Pancasila, merekapun menganggap agama sebagai musuh terbesar Pancasila. Hingga terucap konstitusi diatas kitab suci, Pancasila dan NKRI harga mati.

Memang telah banyak orang yang mengaku kami Pancasila, kami NKRI, tapi benarkah mereka itu Pancasila sejati? Jika mereka benar Pancasila sejati, mengapa mereka yang berkoar-koar kami Pancasila, kami NKRI tapi faktanya gemar korupsi, dan menjarah negeri, atas nama investasi? Inikah Pancasila itu?

Ketika covid-19 telah melanda beberapa negeri mereka dengan sombongnya berkata “RI satu-satunya negara besar di asia tak kena corona” tapi faktanya paling buruk penanganannya. Bahkan ketika rapat di DPR mereka bercanda “korona adalah komunitas rondo nakal” tapi kini yang paling ketakutan. Sebagiannya berkata “kita kebal corona karena doyan makan nasi kucing” dan akhirnya terpapar juga. Yang lain lagi berseloroh “virus corona tak masuk Indonesia karena izinnya susah”. Ketika masker mahal dan langka ia berkata “salah sendiri beli masker”. Inikah Pancasila itu?

Covid-19 kian meraja lela, bahkan beberapa kota telah ditetapkan menjadi zona merah. Kebijakan pemerintah daerah begitu cepat dan tanggap tapi ternyata pusat terlambat, dan untuk menutupi kelambatannya berkata “kebijakan itu wewenang pusat”. Terjadilah ramai antara pemerintahan pusat dan daerah. Kebohongan demi kebohongan dipertontonkan dengan vulgar. Dikatakan stock masker dalam negeri cukup, ada 50 juta, tapi hingga hari ini entah disimpan dimana. Buat upacara peresmian rumah sakit darurat corona berkapasitas 3.000 pasien, tapi faktanya antrian Panjang. 40 ribu APD diimpor dari China, ternyata made in Indonesia. Inikah Pancasila itu?

Disaat negara-negara dunia lockdown, tututan dari para pakar dan tenaga ahli medis untuk melakukan hal yang sama, negeri Pancasila malah berkomentar “Lockdown sebagai tindakan otoriter” ada juga yang bilang “Lockdown tak manusiawi dan tak efektif” bahkan yang lebih aneh lagi ada yang bilang “Lockdown ide sesat HTI”. Jika lockdown otoriter, jika lockdown tak manusiawi, jika lockdown ide HTI, berarti semua negara yang menerapkan lockdown adalah otoriter, tak manusiawi, dan tepapar HTI. Rakyat semakin bingung dan bertanya-tanya, inikah Pancasila itu?

Berkaca dari negara luar yang bukan negara Pancasila dalam penanganan corona. Filipina siap memecat pegawainya yang memberikan kesempatan warga China masuk negaranya. Korea utara lebih sadis lagi, pimpinan tertinggi Kim Jong Un memerintahkan tentaranya untuk menembak mati warga China yang mencoba masuk negaranya. Tapi sebaliknya di negeri Pancasila ini warga China dibukakan pintu selebar-lebarnya. Bahkan mereka diberi diskon 30% ketika mau masuk Indonesia. Inikah Pancasila itu?

Coba kita bandingkan antara negara yang cinta rakyat dan negara yang tidak cinta rakyat. Jepang memberikan setiap warga baik yang sakit atau tidak sebesar 12.000 yen (sekitar Rp. 1.680.000). Amerika Serikat memberikan bantuan untuk warganya 1.000 dolar atau sekitar Rp. 16.000.000. Sementara di Hongkong hampir Rp. 19.000.000 per warga, Australia sekiatar Rp. 700.000 perwarga. Berapa juta rupiah di Indonesia? Padahal 85% APBN bersumber dari pajak rakyat. Inikah Pancasila itu?Disaat warga negara kesulitan dan mahalnya biaya untuk melakukan tes corona, tapi 2.000 anggota DPR dan keluarganya siap tes corona gratis. Disaat rakyat butuh suntikan dana untuk penanganan corona, pemerintah malah kucurkan dana Rp. 300 trilliun untuk mengangkat rupiah.

Disaat rakyat butuh Perpu untuk penyelamatan jutaan nyawa, pemerintah malah mau merubah Undang-Undang keuangan negara melalui Perpu untuk menyelamatkan kekuasaan agar tidak dima’zulkan. Inikah Pancasila itu?

Kini kami mencari dimanakah Pancasila itu berada, masihkah di Indonesia? Kalau masih di Indonesia, segera beri kami solusi untuk menghindari corona. Kalau sudah terbang entah kemana, segera kembali, lindungi anak-anak negeri ini. Jika sudah tak punya daya, kami akan himpun upaya dari segenap elemen bangsa untuk membangun kembali indonesia. Ataukah kau sudah terpapar corona? ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar