Rabu, 25 Maret 2020
SIMALAKAMA HIDUP DINEGERI PANCASILA
Oleh : Abd. Latif
Di tengah wabah corona yang semakin mengganas, rakyat hidup dalam kebinggungan. Bagaikan makan buah simalakama, dimakan ibu mati tidak dimakan ayah mati. Itulah gambaran hidup dinegeri Pancasila. Rakyat dihadapkan pada kondisi yang sangat sulit dimana tidak ada pilihan yang menguntungkan, semua pilihan serba salah dan tidak mengenakan.
Di beberapa kota sudah disosialisasikan himbauan kepada warga masyarakat agar tidak keluar untuk menghindari rantai penyebaran virus corona. Tapi apalah daya jika himbauan hanya sekedar pemanis bibir semata. Tidak ada tindakan bagaimana rakyat bisa bertahan hidup jika tanpa jaminan kebutuhan dari negara. Dan ini adalah fakta simalakama hidup di negeri Pancasila.
Seorang pedagang miskin tetap nekat keluar untuk mencari nafkah keluarga. Ketika ditanya mengapa nekat keluar ? pedagang itu menjawab “Di rumah sudah tidak ada yang dimakan. Jika saya tidak keluar untuk berjualan, anak dan istri saya makan apa? Jika saya tetap dirumah dan tak ada yang dimakan, maka semua akan mati kelaparan. Tidak ada pilihan lain bagi saya, diam dirumah mati Bersama keluarga atau keluar mati untuk mencari nafkah”
Inilah fakta yang terjadi di negeri Pancasila ini. tidak ada kebijakan negara yang pro rakyat kecil. Jangankan membantu kebutuhan pokok warganya, melindungipun tak dilakukan. Lihat saat awal berita tersebarnya virus corona di Wuhan China, negara yang lain sigap untuk mengevakuasi warganya dan menutup kedatangan warga asing yang masuk dinegaranya. Tapi di negeri Pancasila malah sibuk Omnibus Law yang memperbudak pekerja.
Ketika dingatkan dunia, malah dengan sombongnya mengundang dan mempromosikan wisata. Petentang-petenteng dengan sesumbar Indonesia bebas corona. Padahal infrastruktur medis paling minim dibandingkan negara lain. Sibuk duta-dutaan serta mengkriminalisasi warga yang memviralkan TKA China yang masuk Indonesia. Ketika kasus meledak malah ribut dengan pemerintah daerah. Ketika masker langka dan mahal, si mentri malah bilang “Mengapa beli?”
Disaat negara-negara dunia lockdown, negeri Pancasila malah berkomentar “Lockdown sebagai tindakan otoriter” ada juga yang bilang “Lockdown tak manusiawi dan tak efektif” bahkan yang lebih aneh lagi ada yang bilang “Lockdown ide sesat HTI”. Entah apa ini memang logika Pancasila, atau bagaimana ? jika lockdown otoriter, jika lockdown tak manusiawi, jika lockdown ide HTI, berarti semua negara yang menerapkan lockdown adalah otoriter, tak manusiawi, dan tepapar HTI.
Diluar nalar yang sehat, disaat rakyat membutuhkan uluran tangan negara, ternyata harta telah terjarah oleh bandit-bandit negara. Korupsi KPU, KPK, Pertamina, BPJS, ASABRI, Jiwasraya, Bumi Putera, Garuda Indonesia, Inalum, dan lainnya tertutup dengan virus corona. Disaat rakyat meregang nyawa berperang melawan corona ternyata rezim lebih sayang pengusaha. 300 trilliun rupiah uang negara digelontorkan hanya untuk menguatkan mata uang rupiah. Tapi sampai hari ini belum jelas berapa yang harus diberikan rakyat untuk melawan covid19.
Inilah simalakama hidup dinegeri Pancasila. Rakyat harus berjuang sendiri menyelamatkan keluarga. Serta harus siap menjadi tumbal keserakahan pengusaha dan penguasa. Menyampaikan kritik dianggap memberontak, diam akan mati di tempat. Jujur akan hancur dan diam akan dilawan. Tidakkah ini membuka nalar kita bahwa sistem ini (demokrasi) adalah sumber malapetaka ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar